RSS

U’re still the one..

23 Oct


Sesuatu yang tak berharga

tak selamanya dapat dilihat dirasa

disentuh,dimiliki seutuhnya

Tapi adalah sesuatu yang amat berarti

yang dapat dibuktikan dengan pengorbanan

Akan selalu melekat dihati

walau tak harus memiliki

“Woo young-a, kenapa kau begitu cepat pergi meninggalkanku?” didepan nisannya aku meratapi kepergiannya. Sudah 2 bulan ini aku tak lepas untuk sekedar menengok adik kesayangku,sekaligus satu-satunya keluarga yang kumiliki. Kuseka bening kristal yang menumpuk  di bawah pelupuk mataku. Aku harus lebih mengikhlaskannya.

Tak berapa lama, ku pamit padanya dan berjalan menyusuri jalan keluar pemakaman. Kutelusuri jalan hingga sampai ke suatu tempat yang kurasa inilah tempat yang cocok untuk kulepas penat ini.

Dulu, kami biasa bermain disini. Ombak kecil timbul karena percikan dari tanganku yang mulai usil mengusik air sungai. Ya! Inilah tempat kami, tepian sungai tempat kenangan kami. Disini, aku merasa lebih tenang. Drtt.Drrt.

Eonni, kau dimana? Aku mencarimu ke apartment.

Eun Mi. Dia adik kelasku dulu. Dia sering main ke tempatku, dan sudah kuanggap seperti adik kandungku, selain woo young tentunya. Ku kirim balasan untuknya, intinya memberitahukan kalau aku baik-baik saja, dan kalau mencariku, aku berada di tempat biasanya.

Gemericik air sungai menjelang senja sungguh menggodaku untuk maju lebih ke tengah sungai didepanku. Bening airnya sungguh menggiurkanku untuk selalu menyeruputnya.

“Eonni” nampaknya seseorang tiba. Akhirnya. Entah apa yang membuatnya ia menyusulku.

“Eonni, gwaenchana?” aku mengangguk. Ia menatap wajahku yang tertunduk. Tangannya mendongakkan wajahku mengahadapnya.

“Eonni, kau sedang teringat padanya?”aku hanya tersenyum.

“hanya disinilah aku merasa tenang.”

“tapi aku tak mau kau terus begini. kau bisa sakit, eon.”

“Aku tak apa, Eun Mi.“ tatapannya terus meyakinkanku untuk membawaku pulang.

Aku hanya pasrah mengikuti kemauannya. Lagipula matahari sudah terbenam. Matanya begitu nanar jelas terlihat. Lantas kugandeng tangannya berjalan pulang menyusuri tepian sungai.

*********

Saat menonton tv, aku masih terdiam, dan sikapku ini diketahui eun mi.

“Eonni, aku akan menemanimu kapanpun kau membutuhkan. Aku janji tak akan membiarkanmu sendiri lagi” ia menggenggam tanganku. Hangat. Kurasakan kehangatan mempunyai adik lagi. Gomawo eun mi. Air mataku menetes.

“eonni, kau tak perlu menangis, apa aku mengatakan sesuatu yang salah?” aku menggeleng, kurasa malah membuatnya sedih akan sikapku. Aku menenangkannya. Aku menyambut genggamannya kini.

“Eun mi, dengarkan aku. Aku, Park Hye ri, tak akan membuatmu sedih lagi, yaeksok!” senyuman tersungging di bibirnya kini. Membuatku sedikit lebih lega.

“Minumlah ini, eon. Sudah dari tadi aku membuatnya untukmu, mungkin sudah agak dingin sekarang” tanpa babibu aku menyeruput teh yang ia buat, menghabiskan setengah gelas. Ia tersenyum lagi.

Dia nampak lelah disampingku. Ia selalu menemaniku disini, di apartmentku.

“Tidurlah di kamar” aku mengajaknya ke kamar dan menyelimutinya segera. Matanya sudah sangat sayu. Tak lama aku matikan lampu kamar, ia sudah terlelap. Kasihan eun mi.

**********

Hyuk Jae’s pov

“Ahh! Selalu saja begini” bangkitku terbangun paksa setelah melihat alarmku telat berbunyi. Aneh tak biasanya begini. Aku mikir lagi. Aish~ aku baru ingat, setengah jam yang lalu, alarm ini sudah berbunyi, hanya saja aku snooze. Kesal sekali. Telat sudah ke tempat setoran.

“Mianhae! Jeongmal! aku telat!” paman itu hanya mengangguk. Sudah tak heran melihatku begini.

“Sudah, ambillah beberapa susu dan koran ini untuk beberapa blok disana, langganan kita sudah bertambah mulai minggu ini” senyumku sumringah. Semoga saja membuatku lebih bersemangat. Dan semoga saja ada lebihnya untuk jatahku. Aku meringis sendiri.

Sudah seminggu ini aku bangun telat. Kuakui bukan hal yang disengaja atau dibuat-buat. Aku memang memegang beberapa pekerjaan untuk mengisi kekosongan waktuku sembari mengisi kantongku yang jua kering. Sudah konsekuensiku mengambil keputusan ini semua. Toh untuk ku juga.  Fyuh~ ku lap peluh yang bertengger di dahiku. Tinggal 2 blok setelah belokan di depan. Aku, Lee hyuk jae, seorang pemuda yang mengabiskan waktu kini dengan mengantarkan susu dan Koran ke beberapa rumah langgananku dengan sepeda peninggalan appa. Hm, kupikir sudah ada sebulan aku bekerja seperti ini, lumayan menambah uang sakuku.

“Akhirnya selesai sudah semua tugas. Huff” ku hela nafas. Angin sepoi-sepoi membawaku dan sepedaku ke sebuah padang rumput. Sangat indah, menakjubkan. Entah kenapa hatiku, perasaanku lepas di tempat ini. Tapi kenapa aku bisa berada di tempat ini? Mata isengku mendapati seseorang yang nampak sendiri dibawah padang rumput di tepian sungai, entah apa yang ia lakukan disana seorang diri. Sibuk dengan percikan dan gelombang air. Ku dekatkan diri ke tempatnya berada. Ku letakkan sepeda tak jauh dari tempatnya duduk.

Aku menghampirinya.

“Ah!~ nugu? Mau apa kau?”

“Shh~ tenanglah, aku takkan macam-macam, aku hanya ingin duduk disini, menenangkan diri sepertimu. Boleh?”

“Apa kau pikir aku orang yang kurang sehat? Tak ada kerjaan duduk sendirian disini?” ia tersentak berdiri dan bicara tak keruan. Aku berusaha membela diri.

“tenanglah, aku Lee Hyuk Jae” ku julurkan tanganku mencairkan suasana. Tapi, tak membuahkan hasil. Dia malah menggeser posisi duduknya  beberapa meter dari tempat kami semula. Entah ada apa dengannya. Ia mendengus dan mengacuhkanku.

Ia masih terdiam.

“hey” aku memanggilnya.

“Stop disana, atau aku akan berteriak.” Aku maju beberapa langkah dan terus berusaha mengajaknya bicara sewajarnya. Tak seperti saat ini. Aku baru saja datang, tapi langsung ditanggapi seperti ini.

Aku tetap mendekatinya, dan tarik menarik pun tak terelakkan, bukan maksudku untuk kasar, tapi hanya untuk mengetahui namanya dan berkenalan dengannya. Tapi dia memaksaku berbuat lebih. *?*

“eonni!! Hey kau, diam di tempat!” suara siapa lagi itu. Seorang yeoja SMA kini berlari menghampiri kami, nampaknya dia ada di pihak yeoja di depanku ini. Dan terlepaslah genggamanku dari tangannya.

“Eonni, siapa dia?” yeoja SMA itu melotot ke arahku.

“Sungguh aku tak mengenalnya.”

“Hey, siapa kau? Berani mengganggu nae eonni?” nampaknya sekarang aku tahu, yeoja ini yeodongsaeng gadis itu.

“tenang sedikit Eun Mi~ aku tak mengenalnya” gadis ini terlihat sangat terusik dengan kehadiranku, atau karena ia takut kalau aku orang iseng atau orang jahat? Ah~ itu memang wajar saja bagi pikiran seorang yeoja yang sendirian, tiba-tiba dihampiri namja sepertiku. Bisa jadi. Jawaban mungkin menyelimuti pikiranku.

“Sudahlah eonni, lebih baik kita pulang sekarang, sepertinya sudah tak aman lagi kita kemari.” Yeoja bernama eun mi itu kini merajuk mengajak pulang gadis itu. Dan gadis  itu nampak menuruti keinginan dongsaengnya. Tapi sekilas, saat aku hendak pergi, gadis itu menengok ke arahku. Entah apa yang ia pikirkan hingga mau berbalik menengok ke belakang, memandangku. Aneh. Ada apa dengan gadis itu.

Hyuk Jae’s pov end

**********

Park Hye Ri’s pov

Kenikmatan berada di tempat ini membuatku selalu berkeinginan untuk kembali ke tempat ini. Tempatnya, suasananya, gemericik air sungai yang selalu aku rindukan saat bersamanya, selalu membuatku merasa tentram lebih dari tempat manapapun. Tapi semua itu agak berbeda saat seseorang datang dan mengusik  ketenanganku.

Seseorang  menghampiriku.

“Ah!~ nugu? Mau apa kau?”

“Shh~ tenanglah, aku takkan macam-macam, aku hanya ingin duduk disini, menenangkan diri sepertimu. Boleh?”

Dia terus mengalihkan pembicaraanku dengan omongannya yang lain.

“Apa kau pikir aku orang yang kurang sehat? Tak ada kerjaan duduk sendirian disini?”  aku tersentak berdiri dan bicara tak keruan, kurasa nadaku agak meninggi.

“tenanglah, aku Lee Hyuk Jae” dia menyodorkan tangannya ke arahku. Tapi, tak kuhiraukan. Ku geser posisi dudukku  beberapa meter dari tempat kami semula. Aku tak mau ada lelaki yang menggangguku dulu sepeninggalnya.

“hey” dia membuyarkan lamunanku.

“Stop disana, atau aku akan berteriak.” Peringatanku tak ia indahkan, tapi malah terus berusaha mendekatiku dan mengajakku bicara sewajarnya.

Aku mulai tak nyaman dengan suasana ini. Untungnya ponselku terselip di kantong rok. Sementara aku terus memperhatikan tingkah namja itu, kuraba-raba, ku pencet-pencet nomor akhir panggilan. Eun Mi.

“hey, nona, aku hanya ingin mengenalmu”

“eonni!! Hey kau, diam di tempat!” akhirnya bantuan datang. Kau datang tepat waktu eun mi.

Suasana sedikit mencair dengan kedatangan eun mi. tapi sikap eun mi malah semakin menyudutkan namja itu. Terbesit rasa kasihan padanya. Molla~

“Eonni, siapa dia?” tatapan tajam eun mi nampak ke arahnya.

“Sungguh aku tak mengenalnya.”

“Hey, siapa kau? Berani mengganggu nae eonni?” alis namja itu naik sekarang. Seperti menerka-nerka sesuatu.

“tenang sedikit Eun Mi ~ aku tak mengenalnya” aku menenangkan eun mi karena suara eun mi yang terus menyudutkannya, tapi namja itu tak urung untuk segera pergi. Eun Mi menarik lenganku dan berbisik padaku.

“Sudahlah eonni, lebih baik kita pulang sekarang, sepertinya sudah tak aman lagi kita kemari.” Aku mengangguk. saat kami berdua hendak pergi, entah ada sesuatu hal apa yang membuatku kembali menoleh ke arahnya. Dan ternyata namja itu melihatku menoleh padanya. Kupalingkan kembali wajahku darinya. Aish~ pabo, pasti aku dianggap aneh olehnya.

*********************

“Eun Mi, ireuna!! Apa kau tak sekolah hari ini?” anak itu menggeliat. Menusap-usap matanya yang masih sangat tertutup. Ia bangun sebentar, tapi kemudian tertidur lagi dengan posisi duduk.

Hadewh anak ini~

Ku grusuk-grusuk selimutnya, aku usek-usek rambutnya. Suaranya keluar. Enggh~

“ireuna jagi~” hanya anggukan yang kudapat. Ku bantu bangkitkan dia dan menggiringnya ke kamar mandi. “bangun dan sadarlah, eun mi. sudah pagi!” ia menuruti perintahku dan menghilang ke kamar mandi.

Ku bereskan ranjang tempat eun mi tidur. Dia nampak lelah kemarin. Bahkan sempat melindungiku. Eonni macam aku ini, yang dilindungi oleh yeodongsaengnya. Keluhku menatap cermin. Dasar kau ini, hye ri. Seolah tak dapat mandiri. Melindungiku dari seorang namja yang nampaknya sangat ingin mendekatiku, dan berkenalan denganku. Tunggu, sekilas saat aku menoleh padanya kemarin, aku merasakan sesuatu yang berbeda, ada sesuatu yang membuatku menoleh padanya. Dia mirip seseorang, postur tinggi dan cara bicaranya, apa adanya. Aigo~ apa yang kupikirkan. Hilangkanlah pikiran aneh dari pikiranmu, hye ri~

“Apa namja kemarin jadi topik hangat di dalam pikiranmu eonni?” eun mi sudah di belakangku sekarang. Aku menoleh.

“Aigo~ kenapa kau mengagetkanku?”

“tapi aku tak merasa kau kaget dengan kehadiranku, eon” bicaranya seolah ia tau apa yang kini aku pikirkan.

“Anni, aku hanya..” omonganku terhenti.

“hanya apa eon?” kini aku yang seolah mendapat interogasi darinya.

“Mianhaeyo, aku tak bermaksud mencampuri urusanmu, eon. Tapi tak akan membiarkan seseorang membiarkanmu sedih dan murung lagi.”

Nada bicaranya memang berusaha tegar ingin melindungiku dan tegar di depanku, tapi aku tau perasaannya rapuh sepertiku. Bayangkan woo young pergi sebelum sempat bertemu terakhir kali dengan eun mi. yang ku tau, kabarnya saat itu, mereka berdua, woo young dan eun mi sedang dalam masalah, ada salah paham antara mereka. Aku pun tau kabar ini langsung dari seorang saksi, yang juga teman woo young yang melihat kejadian langsung. Tak lama adik kesayangku meninggalkan kami beberapa jam setelah cukup bertahan di rumah sakit. Dan hal itu belum diketahui eun mi sampai 2 hari kemudian, eun mi mengetahuinya. Ternyata eun mi jatuh sakit setelah mendengar berita itu.

Deg.

“Eonni, gwaenchana? Aku pergi dulu. Apa kau akan kesana lagi?” Aku termenung sendiri, tak menghiraukan ataupun menjawab pertanyaan eun mi. Kuanggukkan kepala,  “nde.”

Ku antar eun mi sampai ke depan pintu dan kuperhatikan langkahnya keluar pintu. Hanya kami berdua yang menginjak lantai apartment ini. Aku dan woo young. Ah~ lebih baik aku cepat ke sana, agar tak terlalu panas. Apa dia juga kesana ya? Pikiranku mengandai lagi.

*****************

Semilir angin sepoi-sepoi memang sangat cocok dengan pemandangan disini. Tak terasa kurang dari tempat ini. Kuncup-kuncup bunga beterbangan helai demi helai mengikuti alunan melodi angin yang seolah mengiring mereka ke langit yang lebih tinggi. Sungguh indah ciptaan Tuhan. Rerumputan dibelakangku bergoyang satu sama lain seolah ada yang menggelitik mereka untuk terus bergoyang di buai angin sore ini. Tukk~

Aish~ apa ini? Pesawat terbang kertas mendarat tepat di atas kepalaku. Ku genggam pesawat itu dan melongok sekeliling, siapa yang melakukannya? Kubuka kertas itu. Ada sebaris tulisan disana.

Boleh aku menemanimu?

Apa ini ulahnya? Namja itu? apa ini tulisannya?

Hyuk Jae’s Pov

Lebih baik aku mencobanya lagi, tak ada salahnya bukan. Mungkin hari aku lagi beruntung. Hari ini aku dapat uang tips dari pelanggan, tak biasanya bukan. Aish~ kenapa aku jadi sombong begini. Pabo~

Ah~ benar ternyata keberuntungan masih berpihak padaku. Sangat jelas terlihat sosok yeoja itu di sebelah sana, di bawah padang rumput kemarin. Ku lihat kini ia terbaring tidur di atas rerumputan. Lebih baik mencoba daripada menyesal. Kudekati yeoja itu lebih dekat, sambil kubawa sepedaku mendekat. Ku taruh pelan sepedaku agar tak membangunkannya.

Ia tak menyadari kedatanganku. Ia tetap tenang, tak terusik. Nampaknya ia lelah hingga tak sadar kalau aku telah disampingnya, duduk untuknya, menatapnya lekat-lekat. Ternyata ia tak seperti apa yang ku pikirkan. Dibalik sikap kasar dia padaku kemarin, ternyata masih ada senyum kelembutan di balik bibir mungil itu.

Ahh~ nampaknya yeoja itu membuka matanya, dan melirikku. Demikian pikirku, pasti dia kaget.

“Anata? Ani, kamu? Apa yang kau lakukan disini? Apa kau disini sejak tadi?” ia terus berbicara layaknya menginterogasiku.

Kuletakkan jari telunjuk dibibirku. “Ani~ aku hanya sedang menikmati suasana dan pemandangan tempat ini, sepertimu.”

Ia kembali menengadah langit. Tetap tenang, lain halnya dengan sikapnya kemarin yang seolah tak menerimaku dekat dengannya.

“Lee Hyuk jae imnida. Nuguseyo?” tanpa basa-basi lagi.

“Park hye Ri imnida.” Ucapnya lembut memberiku senyuman. Aigo~ apa ini mimpi?

“Apa kau sering kemari?” tanyaku tak mau kalah diam.

“…………..”

“Hye Ri-sshi, gwaenchan?”

Ia melirikku. Kemudian mengangguk. ”nde ”

Kami berbicara layaknya sudah kenal dekat. Ku atur  sikapku berbicara agar ia nyaman bersamaku. Ia Nampak sudah lebih tenang, berbicara tentangnya dan kenapa ia sering kemari, tapi, setiap ia membicarakan alasan ia datang kemari, selalu saja terpotong, dan wajahnya lansung tertunduk. Sebenarnya apa yang terjadi. Ku ambil sisa susu yang tertinggal di keranjang sepeda.

“Minumlah ini. Kau akan segera baikan”

Ia menerima dengan hati yang lepas, dan meneguknya. Kemudian ia menceritakan alasan yang sebenarnya. Aku mulai mengerti kenapa mukanya selalu terlihat ditekuk begitu, sudah kuduga.

“kau sudah mendengarnya bukan? Bukannya aku ingin kasar padamu kemarin, aku tak mengerti dengan diriku kemarin itu” aku mengusap rambutnya, menyeka butiran kristal yang jatuh dipelupuk mata hye ri.

Sudah cukup lama mungkin kami bersama di tempat ini, terlihat langit sudah agak gelap.

“Eonni!!” sepertinya adiknya sudah hadir diantara kami.

“Gwaencahana? Kau lagi, sebenarnya apa maumu?” nadanya seperti kemarin, meninggi, layaknya membenciku. Seperti yang hye ri katakana, dia tak ingiin sesutau terjadi pada hye ri. Aku mnegerti sikapnya kini.

“Tenanglah eun mi, dia tak seburuk yang kau kira” Hye ri mencoba menenangkan adiknya.

Raut wajah eun mi sudah lebih tenang sekarang. Dan melangkah ke samping hye ri, nampaknya berbisik, membicarakan sesuatu pada hye ri. Hye ri menggeleng.

“perkenalkan, dia adikku” dia memperkenalkan adiknya padaku.

Adiknya masih memandang hye ri, tak percaya. Aku tak perlu berpikir yang aneh-aneh sekarang.

“Kim eun mi imnida”masih terlihat raut wajahnya yang seolah ingin menerkamku.

“Lee Hyuk jae imnida, bangawoyo” aku berusaha mencairkan pikiran negatifnya terhadapku.

Setelah itu kami bertiga duduk bersama di rerumputan, sambil menikmati  indahnya sunset hari ini. Tak lama, mereka berdua pamit pulang, diselingi kemudian aku pulang menggiring spedaku pulang kea rah yang berbeda.

Hyuk Jae’s pov end

**************

Eun Mi’s Pov

Seperti mimpi, eonni sudah terlihat lebih ceria sekarang, setiap kali aku memandangnya, terbesit senyuman di bibir mungilnya. Aih~ andai saja kau masih disini woo young, kau pun pasti tersenyum melihat noonamu bahagia. Ya, aku ikut bahagia melihatnya bahagia. Bahagianya, bahagiaku juga. Aku akan menggantikanmu menjaganya, agar tak ada lagi kristal yang jatuh di pelupuk matanya.  Kian hari, setiap pagi, hye ri eonni selalu menampakkan wajah cerianya, walau ia tak langsung bercakap denganku, tapi aku tau bagaimana gadis yang tulus memberikan senyum kebahagiaannya.

“kau nampak ceria hari ini eon? Apa yang membuatmu bahagia eon?” aku terus menatap wajahnya yang tak pernah bosan kupandang.

Ia tersenyum lagi, mengusap pipiku. Bahkan mencubit pipiku. Aish~

“Sudahlah, kau makan saja dulu, habiskan, atau kau akan telat berangkat.” Hye ri eonni terus saja mengalihkan pembicaraan kami, dan tak lupa ia meletakkan jari telunjuk dibibirnya. Rasanya ada sesuatu yang kini tak ku ketahui darinya. Mungkin pulang sekolah, aku akan menanyakannya.

“kau sudah ke tempat woo young minggu ini, eun mi?”

“belum, kau eon?” ia menggeleng.

“ Apa kau mau pergi bersamaku?” ajaknya.

“Bukan aku tak mau, eon. Kemarin, songsaenim bilang akan ada materi tambahan sepulang sekolah, itupun kalau jadi, daripada kau menunggu lama, sebaiknya kau pergi duluan saja,” jelasku.

“Nde, ara.” Ia lantas membereskan sarapanku yang telah habis dan miliknya.

“Aku pergi dulu eonni, jalga,” pamitku keluar pintu.

“Josimhae,” ucapnya dibalik pintu.

Eun Mi’s pov End

****************

Hyuk Jae’s pov

Apa hari ini ia tak ke sini? Apa ada sesuatu yang terjadi. Tak biasanya ia tak datang. Ingin ku melangkah ke rumahnya, tapi aku sama sekali tak tau arah kerumahnya. Kenapa kemarin aku bertanya setengah-setengah padanya. Biarlah aku menunggunya sebentar lagi. Kring-Kring..

“Hyuk? Kau disini?” eun mi datang tepat waktu.

“Nde, aku menunggunya. Dia tak datang?”

Eun mi menaruh sepeda di dekat kami. Kami mengobrol sebentar. Nampaknya rasa tak suka eun mi padaku sudah pudar sekarang. Entah apa yang merubah sikapnya padaku.

“Hm, mianhae hyuk kalau selama ini aku berprasangka buruk padamu.”

Aku tersenyum, “Geurae, gwaencahan”

Dia mengutarakan alasan kenapa eun mi tak datang. Rupanya ia tak datang karena menengok pemakaman adiknya, yang juga namjachingu eun mi. Arasseo. Aku bergumam sendiri. Eun Mi juga cerita tentang hye ri beberapa hari ini. Katanya hye ri sudah lebih ceria dibanding hari-harinya yang lalu. Berita yang bagus untukku dan untuknya. Sambil bercerita, eun mi tersenyum-senyum sendiri, nampaknya ia juga turut bahagia melihat keadaan hye ri sekarang.

“Hyuk, aku harus pulang, mungkin eonni sudah pulang, dan menungguku di rumah, tak apa ya aku tinggalkan kau sendiri?” Aku mengangguk. Tak kusangka mengobrol dengannya menyita waktu cukup lama. Hingga matahari sudah terbenam lagi.

“Gomawo, eun mi” eun mi melambaikan tangannya padaku dan berlalu pergi. Tak lama aku menyusulnya pulang. Hari yang melelahkan, namun ada hasilnya. Apa yang kurasakan pada hye ri, tak salah lagi. Aku menaruh perasaan padanya. Tapi akan ku sampaikan hingga waktunya tepat.

Hyuk Jae’s pov end

**************

Author’s pov

“Gimana kabar woo young, eon?”

Hye ri tersenyum, “dia baik, eun mi. Sangat baik. Aku cerita banyak tentang kau dan aku selama kita tinggal bersama, suka dan duka kita”

“dan cerita tentang seorang namja bernama hyuk jae?” eun mi nyeletuk.

“apa yang kau bicarakan eun mi?” Hye ri nampak gelagapan sekarang. Bersemu tepatnya, dan menyembunyikan wajahnya membelakangi eun mi.

“Aku kan juga seorang yeoja, eon. Aku tau apa yang kau rasakan sekarang. Nampaknya hyuk juga..”

“eun mi, nampaknya masakannya sudah siap, apa kau sudah lapar?” hye ri mengalihkan pembicaraan mereka lagi. Eun Mi sudah membatin, memang mereka sudah memiliki perasaan yang sama sekarang, dan tak perlu dipungkiri lagi. Mungkin dia bisa membantu mereka.

“Nde. Aku sudah sangat lapar” eun mi bangkit dan melangkah ke ruang makan. Bau yang menggiurkan. Batinnya.

Mereka berdua makan dengan sisa-sisa tenaga dan kebahagiaan malam itu. Sungguh, malam yang melelahkan diiringi alunan melodi lagu yang terdengar dari radio di atas kulkas tak jauh dari tempat mereka makan malam.

Author’s pov end

Di tempat lain–

“Semoga rencana eun mi berhasil besok.” Ya semoga saja.

*********

“Eun mi, apa kau menunggu seseorang? Nampaknya kau gelisah sekali.” Sahutku dibalik dapur, mencuci gelas dan piring bekas sarapan.

“Ani” eun mi menggeleng.

“Aduh, si unyuk itu, lama sekali balasannya” eun mi keluar apartment bicara seorang diri menunggu sesuatu.

kurasa ada yang tak beres dengan eun mi hari ini, kerjaannya mondar-mandir keluar masuk kamar  terus.  Entah apa yang dikerjakannya.

“Eonni, temani aku ke taman yuk.”

“Wae? Ada apa? Bukankah kau belum menengok woo young di pemakaman?” aku terus bertanya padanya.

“nde, ara. Tapi ini lebih penting” eun mi keceplosan.

“maksudmu? Wae? Apa yang sebenarnya ingin kau katakan?“ aku penasaran dengan tingkahnya yang mencurigakan.

“ne, aku hanya ingin berjalan-jalan denganmu saja eon, hari ini kan kita libur, tak ada salahnya kan kalau kita bersama hari ini?” sebenarnya aku agak ragu dengan perkataan dan tingkah lakunya. Tapi mungkin ada benar nya juga apa yang dikatakan eun mi. Sudah lama kami tak jalan bersama. Hilangkan perasaan itu lagi, hye ri.

“Eonni, tunggulah disini, aku mau membeli ice cream sebentar disebelah sana” tunjuknya pamit membeli ice cream tak jauh dari tempat kami sekarang.

Taman yang cocok untuk kami berdua habiskan waktu bersama. Asri, sejuk, walau dekat dengan jalan raya, tapi tak terasa bau polusi yang kuhirup. Benar-benar sejuk disini. Lalu lalang anak-anak kecil yang bermain pasir, seluncuran, atau ayunan pun terlihat sangat gembira. Dalam hati kupun merasakannya. Tapi perasaan itu muncul lagi dalam benakku. Ya, Woo young. Andai ia disini bersamaku dan eun mi, kami bisa bersenda gurau bersama, menikmati indahnya hari yang kami lalui.

“Annyeong, aegesshi, ada titipan ice cream dari seseorang untukmu,” suara seseorang mendekat di depanku.

“Nde, gomaweo, kemana eun..” ucapanku terputus saat mendongak,melihat siapa yang membawakan ice cream itu dari eun mi.

“Annyeong  haseyo  hye ri-sshi, ” ucapnya sambil tersenyum. Seorang namja yang ku kenal. Kalian tau siapa dia? Nde, dia lee hyuk jae.

“Kau sendiri disini?”

“Aish~ ne, eun mi? molla,” omongannya terasa aneh di telingaku. “Tunggu, kau tau kami berdua kemari?”

“Ne, aku mengirim pesan pada eun mi, dan dia bilang kalian kemari, dan tadi ia menitipka ini untukmu, dan aku membeli satu lagi,” ia memberikan ice cream vanilla choco padaku, dan ia menggenggam banana chocolate ditangannya.

“Kau? “

“Wae? Apa aku boleh duduk disini?” aku mengangguk boleh. Senyuman melengkung di bibirnya.

“Pasti kau ingin bertanya kenapa aku membeli yang rasa ini bukan?” tebakannya nancep. Pas banget.

“Alasannya karena aku seorang monkey, ” keningku mengkerut. Ia tertawa kecil. “kau percaya?”

“Ani,”

“Sejak kecil aku suka pisang, dan teman-teman sekolahku jadi suka memanggilku dengan sebutan monkey, “

“monkey”

“nde, aku tak merasa risih sedikitpun karena itu,” tuturnya sambil menghabiskan setengah ice cone-nya.

“hye ri, ice cream-mu?”

“Wae?”

“Melting,” aku salting, molla~ aish, dasar hye  ri pabo~

Hyuk menjilat ice creamku yang meleleh, mukaku bersemu.

“Hye ri? Wae? Kenapa wajahmu itu? Apa kau terpesona dengan ketampananku?”

Aish~ kenapa namja ini.  Tukk~

“Aww,” ia meringis, “Wae, kau menjitakku?”

“tak apa, kau namja yang sangat percaya diri, dan sok keren” ucapku masih cicip-cicip ice cream milikku.

“memang aku keren kan?” ia sangat percaya diri sekali. Tapi aku terus melahap setengah ice creamku dengan mengiya-iyakan ucapannya dalam hati.

Ia menggenggam tanganku yang juga memegang cone ice. Kegiatanku terhenti. “joahae~ ” satu kata tersentak keluar dari mulut hyuk. Molla~ apa yang dipikirkannya sekarang, tapi berhasil membuatku mematung sejenak. Dan ia melepas genggamannya dari tanganku.

“Ah~ mianhe kalau aku terlalu cepat,”

Aku masih terus memandang ke arah lain agar wajahku yang seperti tomat ini tak terlihat olehnya.

“hayoo, ketahuan ya!~ ” suara eun mi terdengar, anak itu, kemana saja dia membiarkanku terjepit dalam keadaan seperti ini?

“Sudah kau tembak, hyuk?” ucapan eun mi seolah menghentikan detak jantungku. *haiah*

Hyuk menggeleng.

“hye ri, apa kau mau bersamaku, aku janji akan selalu terus membuatmu tersenyum dan tersenyum lagi,”

“Eun mi, apa kalian berdua sekongkol, ha?” mataku sinis pada eun mi.

“eon, aku kan juga yeoja, ” 2 kali kata itu keluar dari mulut eun mi. Sengaja menggodaku, dan mempermalukanku di depan hyuk.

“Ada syaratnya,” mulutku mulai menjawab pertanyaan hyuk.

Hyuk nampak pasang kuping, pasang mata, “ne,ara, mwo?”

“Woo young akan terus dihatiku, jangan menggubrisnya ya,”

“Aku bisa di hatimu yang lain, princess”

Eun mi bersorak. Kenapa lagi anak ini. “Chukkae, oppa” “Chukkae eonni,”

“Oppa?” ujarku bergidik.

“Wae eonni? Aku belajar memanggilnya oppa, kan dia juga akan menjadi oppaku, eon”

Eun Mi berhasil lagi membuatku bersemu.

“Nde, arraseo, besok kita bertiga pergi ke makanm woo young ya. Dan tak ada yang telat, yaeksok?” sahutku tajam mellirik hyuk yang nampak mengena dengan perkataanku barusan.

“bercanda, yeobo, akan ku tunggu kau, kan ada eun mi yang bersamaku kalau kau ada.”

“Ani,ani. Sudah ada aku, eun mi tak ada pun aku akan selalu membuatmu tersenyum, nae jagiya” kata eunhyuk yakin sekali akan ucapannya.

Dan Eun Mi tak henti-hentinya menggoda kami.

**********************

Park Hye ri’s pov

“Dongsaeng, kenalkan, orang yang selama ini ku ceritakan padamu” curhatku didepan makam woo young sambil menggenggam tangan hyuk.

“nde, aku lee hyuk, akan menjaga noonamu dengan sepenuh hatiku,” janji hyuk entah hanya ucapan atau apa sambil mengacung-acungkan tangan kami.

“haiah, jangan menggombal di depan makam adikku, hyuk.”

“tapi ini kenyataan, jagiya,”

Eun Mi hanya bisa berdecak dan berdehem akan pembicaraan kami, dan kami hanya membalasnya dengan senyuman malu. Eun Mi juga bercerita tentang pacar barunya pada woo young, tapi gadis ini berjanji, woo young akan selalu di hatinya. Eun hyuk membenamkan wajahku di dalam pelukannya. Aish~ pabo!~ mukaku pasti bersemu lagi. Eun mi terus saja menggoda sambil cekikikan.

Daun-daun berguguran selama kami di makam woo-young, hari-hari yang tak kan kulupakan hingga berikutnya, dan aku berjanji pada diriku dan pada woo young, aku akan selalu menjaganya di dalam hatiku, walau sudah ada hyuk yang menemani hariku selanjutnya dengan senyuman hangat dan kebahagiaan. Angin sepoi seperti di tepian sungai itu terasa disela-sela kami bertiga. Pemakaman Woo young menjadi tempat kunjungan kami yang paling utama.  Kami bahagia, woo young -ah🙂

Nae dongsaeng, U’re still the one,….

Park hye ri’s pov end

*****************

(untuk seseorang di saat ku merindukannya)

 
Leave a comment

Posted by on October 23, 2010 in FanFiction

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: